Senin, 20 Februari 2012


KONSEP SEGITIGA PENYAKIT PADA HAMA KUTU PERISAI TANAMAN KELAPA ASPIDIOTUS DESTRUCTOR SIGN.


Pada awalnya konsep segitiga penyakit berasal dari Ilmu Penyakit Tumbuhan, namun  dapat juga diterapkan pada bidang ilmu hama. Komponen yang terdapat pada konsep segitiga penyakit adalah patogen, inang, dan lingkungan. Pada dasarnya penyakit hanya dapat terjadi jika ketiga komponen yaitu patogen, inang dan lingkungan mendukung. Lingkungan yang dimaksud berupa komponen lingkungan fisik (suhu, kelembaban, cahaya) maupun biotik (musuh alami, organisme kompetitor) (Wiyono 2007).
Perkembangan selanjutnya komponen manusia ditambahkan dalam konsep ini, dan berubah menjadi konsep segiempat penyakit. Peran manusia menjadi sangat penting karena dapat meningkatkan penyebarannya ke luar daerah asal. Seperti penyebaran hama kutu perisai kelapa Aspidiotus destructor Sign. (Homoptera: Diaspididae) yang menyebar sampai ke daerah subtropis. Dari konsep tersebut jelas sekali bahwa perubahan salah satu komponen akan berpengaruh terhadap intensitas penyakit yang muncul.
Faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan populasi kutu Aspidiotus destructor Sign. adalah faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang dimaksud adalah faktor iklim. Terdapat beberapa unsur iklim yang memiliki pengaruh cukup baik terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Unsur-unsur iklim tersebut diantaranya adalah suhu, angin, curah hujan, dan kelembaban. Setiap serangga memiliki kisaran suhu tertentu untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Suhu minimum, optimum, dan maksimum yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan kutu ini belum diketahui.
Pada bulan-bulan kering populasi kutu perisai meningkat karena pada umumnya keaktifan serangga akan meningkat pada bulan-bulan kering. Namun untuk pertumbuhan dan perkembangannya diperlukan kondisi yang cukup lembab. Hal ini terlihat dari tempat menetap mereka yang berada pada permukaan bawah daun, dan terkadang di atas permukaan daun bila permukaan atas daun lembab. Pertanaman yang cukup rapat dan hujan juga merangsang cepatnya perkembangan serangga ini.
Kepadatan kutu perisai berkisar antara 20-30 per cm2 permukaan daun. Bila larva tidak menemukan tempat, larva dapat memanfaatkan hujan untuk turun dan berpindah ke pohon lainnya. Namun hujan yang lebat dapat meningkatkan mortalitas kutu ini, karena tingkat kematian imago dan telur mengalami peningkatan pada saat hujan lebat.
Selain hujan, angin juga dapat menjadi penyebab penyebaran hama kutu perisai. Pada umumnya penyebaran tanaman kelapa berada di daerah pinggiran laut, dimana terpaan angin terjadi cukup tinggi. Tanaman kelapa juga membutuhkan bantuan angin untuk melakukan penyerbukan. Angin yang terjadi pada malam hari dan siang hari di pinggiran laut menjadi faktor yang paling menentukan tingkat penyebarannya. Dengan angin, hama kutu ini akan berpindah dari satu pohon ke pohon lain dengan mudah. Kerusakan yang terjadi pada mahkota bunga kelapa mungkin juga diakibatkan oleh bantuan angin. Jika sudah terjadi hal seperti ini, dapat dipastikan produksi kelapa akan menurun. Walaupun produksinya tetap konstan kemungkinan rasa dari air kelapa akan berubah menjadi asam.
Selain dengan bantuan hujan dan angin, penyebaran kutu perisai yang meluas sampai daerah subtropis seperti Amerika dan Perancis diakibatkan oleh aktivitas manusia. Penyebaran oleh aktivitas manusia dapat terjadi melalui pembibitan tanaman tropis dan barang-barang yang terbuat dari bahan tanaman daun kelapa seperti keranjang yang didatangkan dari daerah tropis ke daerah subtropis. 
Kerusakan yang ditimbulkan dari serangan hama kutu perisai seperti menguningnya daun yang diakibatkan oleh hilangnya klorofil, kerusakan mahkota bunga, dan berubahnya rasa air kelapa menjadi asam hingga mengakibatkan penurunan produksi kelapa memaksa petani untuk melakukan pengendalian. Pengendalian yang biasa dilakukan adalah pengendalian hayati, yakni pengendalian dengan menggunakan musuh alaminya. Kehadiran organisme lain seperti predator  Chilocorus politus (Coleoptera: Coccinellidae) dan Scymnus sp. (Coleoptera: Coccinellidae), serta parasitoid Comperiella unifasciata Ish. (Hymenoptera: Encyrtidae) akan menekan populasi hama kutu perisai.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Pest of the Month Coconut Scale Insect Aspidiotus destructor Signoret (Hemiptera: Dispididae) (terhubung berkala) http://www.spc.int/pps/pest_of_the_month_-_january_2005.htm (11 Mei 2011)
Martin L. 2007. Aspidiotus destructor (Signoret). Hawaii: Department Entomology.
Reyne A. Studies on A Serious Outbreak. Tijdschr. V. Ent. LXXXIX, 1946 (1948). 
Susniahti N., Semeno, Sudarjat. 2005. Bahan Ajar Ilmu Hama Tumbuhan. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Syauta E.I., Mahrub E., Wagiman F.X. tahun tidak diketahui. Jenis dan Pemangsaan scymnus Sebagai Predator Kutu Perisai kelapa Aspidiotus Destructor di Sleman. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Hama Tumbuhan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Wagiman F.X. 2005. Introduksi Predator Chilorus politus Mulsant (Coleoptera: Coccinellidae) dari Yogyakarta ke Ende untuk Pengendalian Hayati Kutu Perisai Taruna Aspidiotus destructor rigidus Meijn (Homoptera: Dispididae). Dalam: Biologi, Vol. 4, No. 5, Juni 2005.
Wiyono S. 2007. Perubahan Iklim dan Ledakan Hama dan Penyakit Tanaman [Makalah]. Dalam: Seminar Sehari tentang Keanekaragaman Hayati Ditengah Perubahan Iklim: Tantangan Masa Depan Indonesia, diselenggarakan oleh KEHATI, Jakarta 28 Juni 2007. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar